Inilah Amalan Yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Menerima Lamaran

Amalan Sebelum Menerima Lamaran

Muslimah Share - Menikahlah dengan niat ibadah. Menikahlah untuk menjalankan sunnah Nabi. Menikahlah untuk menjaga diri dari dosa dan maksiat.

Namun, jangan asal menikah. Jangan langsung menerima lamaran yang datang tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Bahkan salah satu istri Nabi Muhammad pun ada yang meminta jeda untuk memutuskan, apakah ia menerima lamaran Rasulullah atau tidak.

Karenanya, lakukan hal ini sebelum memutuskan untuk menerima lamaran.

Zaid bin Haritsah bercerai dengan Zainab binti Jahsy. Setelah habis masa ‘iddahnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan Zaid bin Haritsah untuk mendatangi mantan istrinya itu. Rupanya, Zaid diperintahkan untuk membawa lamaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sesampainya di rumah Zainab, Zaid menyampaikan amanah yang dibawanya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian, Zainab mengatakan, “Aku tidak akan berbuat apa-apa sampai aku meminta petunjuk Rabbku.” Setelah itu, Zainab bergegas untuk mendirikan shalat, meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala.

Mengomentari hal ini, Dr. Thal’at Muhammad ‘Afifi Salimi mengatakan, “Ini adalah dalil antusiasme shahabiyah terhadap shalat istikharah yang mereka pelajari dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana halnya mereka belajar setiap surat dari al-Qur’an.”

Inilah amalan utama itu. Sebuah bentuk perasaan butuh dan pengakuan akan kelemahan diri kepada Allah Ta’ala Yang Mahakuat.

Sebab, Dia Maha Mengetahui, sedangkan manusia sama sekali bodoh dan amat terbatas pengetahuannya. Bahkan, manusia tak kuasa untuk menentukan bagaimana kelangsungan hidupnya dalam sekejap masa yang akan datang.

Dengan meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala, maka keraguan akan sirna, dan keyakinan akan terus bertambah.

Karenanya, jalan untuk mewujudkan dan mengarungi kehidupan setelah pernikahan pun akan semakin dimudahkan oleh-Nya. Sebab, kehidupan setelah pernikahan dipenuhi ujian dan godaan yang berat, sukar, dan penuh tipu daya.

Karenanya pula, menikah diganjari pahala yang agung. Dan, setan laknatullah akan senantiasa melakukan berbagai macam tipu daya agar seorang manusia urung menikah, berlambat-lambat tanpa alasan yang syar’i, bahkan setan akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memisahkan pasangan yang telah sah menikah. Ya, cerai adalah proyek besar iblis laknatullah ‘alaihim.

Semoga bermanfaat :)

Hikmah, Demi Cinta Rela Menikahi Wanita Pezina


Saat itu Ustadz baru saja selesai mengisi sebuah kajian rutin di kampus ternama di kota X. Beliau istirahat bersandar di dinding. Di sekelilingnya beberapa mahasiswa duduk mengerumuninya.

Kebiasaan Ustadz memang kalau habis ta’lim tidak langsung pulang, tapi bercengkerama dulu dengan para ikhwah, berbicara santai penuh kehangatan. Dengan cara itu Ustadz bisa menyelami sekian banyak problem yang dihadapi ikhwah dan berusaha membantu atau setidaknya memberi solusi syar’inya.

Di antara kerumunan mahasiswa itu, ada yang bernama, sebut saja, Farhan. Dia kuliah di bidang Geomatika. Farhan berkata,

“Afwan, Ustadz… Ana ingin bicara 4 mata sama Ustadz, bisa?”

“Oh bisa, bisa……”, jawab Ustadz sambil berdiri dan berpindah ke sudut masjid yang lain diikuti Farhan.

“Ada masalah apa, Farhan? Ada yang bisa saya bantu?”, tanya Ustadz.

“Ustadz…ana mau tanya, bagaimana hukumnya menikahi wanita yang pernah berzina dengan lelaki lain?”

Sejenak Ustadz terkejut, kemudian menjawab, “Menurut pendapat yang rajih boleh. Pernikahannya sah. Hanya saja, sangat dianjurkan si wanita itu taubat dulu dengan taubat nashuha. Memangnya kenapa, Farhan?”

Maka Farhan pun memulai cerita lebih kurang sebagai berikut:

Farhan memiliki teman wanita 1 jurusan. Sebut saja namanya Melati. Alhamdulillah Melati juga sudah ngaji dan cukup istiqomah. Hanya saja, Melati tidak bisa menahan diri dari fitnah lawan jenis.

Ia pun menjalin hubungan cinta (pacaran) dengan seorang mahasiswa dari kampus lain, yang juga sudah ngaji, sebut saja namanya Raffi. Ironis memang.

Sudah sama-sama ngaji tapi masih mau pacaran. Hubungan mereka pun berlangsung selama kuliah hingga lulus tanpa sepengetahuan orangtua masing-masing.

Setelah lulus, Melati menyampaikan maksud hati kepada orangtua ingin menikah dengan Raffi.

Tapi ternyata orangtua Melati menolak Raffi mentah-mentah, karena Melati telah dijodohkan dengan lelaki lain.

Melati menolak dengan alasan lelaki itu awam, belum satu manhaj. Tapi orangtua tetap kekeuh dengan pilihannya.

Karena tak tahan, akhirnya Melati minggat dari rumah. Dia kabur bersama sang pacar, yaitu Raffi.

Mereka pindah dari kota ke kota. Selama masa kabur itu, mereka menginap dari hotel ke hotel, dari kost ke kost, sampai sekitar 3 bulan lamanya.

Parahnya, selama itu pula mereka telah berzina, melakukan hubungan suami istri. Na’udzubillah ya Allah…….

Selama itu pula, Melati putus kontak dengan keluarga. Dia hanya mau pulang bila diizinkan menikah dengan Raffi. Melati sudah cinta mati kepada Raffi.

Pun sebaliknya dengan Raffi terhadap Melati. Saking cintanya sampai mereka jadi gelap mata gelap hati, hingga terjadilah perbuatan nista yang tak sepatutnya dilakukan.

Tapi Melati masih sering komunikasi dengan Farhan. Melati menceritakan semua yang ia alami.

Farhan hanya bisa menasihati agar Melati mau pulang. Orangtua adalah segalanya. Jangan hanya karena demi cinta, lantas durhaka kepada orangtua, apalagi sampai melanggar kesucian.

Melati pun luluh. Dia akhirnya pulang ke rumah. Tapi orangtua tetap tidak bisa merestui kehadiran Raffi.

Mereka tidak peduli meskipun putrinya telah direnggut kesuciannya oleh Raffi. Malah mereka makin tidak ridho.

Mereka berpikir kalau memang Raffi anak yang sholih, tentu tak akan mengajak putrinya ke dalam lembah perzinaan.

Sekian lama berlalu. Karena restu tak kunjung tiba, Raffi pun malah memutuskan cintanya terhadap Melati, kemudian menikah dengan wanita lain. Lengkap sudah derita Melati ! Ia tak menyangka Raffi tega mencampakkannya dalam kondisi seperti ini.

Melati down, trauma, dan seolah kehilangan semangat hidup. Ia curhat ke Farhan ingin bunuh diri. Ia tak sanggup menahan segala beban hidupnya.

Ia merasa sudah kotor seperti sampah yang tak ada gunanya. Untuk apa lagi hidup?? Tapi Farhan selalu menasihatinya agar kuat dan terus bersabar. Bahkan demi “menyelamatkan” hidup Melati yang begitu rapuh, Farhan bersedia setulus hati untuk menikahi Melati.

Farhan tidak perduli dengan segala masa lalu Melati. Dia hanya minta agar Melati melupakan Raffi, dan membenahi diri demi menyambut masa depan baru yang lebih baik. Membuka lembaran baru yang lebih taat di jalan Allah.

Alhamdulillah…..karena melihat kondisi putrinya yang makin ngedrop, orangtua Melati mengizinkan Farhan menikahinya. Maka Farhan dan Melati pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk menuju pelaminan.
……………………………………………………………….

Mendengar cerita Farhan, tak terasa setetes airmata Ustadz jatuh di sudut kelopak matanya. Tak disangka, zaman seperti ini, masih ada pemuda yang setulus Farhan; yang rela membuang segala ego pribadinya demi menyelamatkan dan membahagiakan orang lain. Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahi rumahtangga mereka. Aamiin..

Semoga bermanfaat ya :)

Kisah: Melepas Gemerlap Dunia Demi Sang Suami

Kisah: Melepas Gemerlap Dunia Demi Sang Suami

Bismillah.. Semoga bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku..

Sore itu,, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku.

Kemudian akhwat itu bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.

“nunggu suami” jawabnya.

Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya.

Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya

“Mbak kerja di mana?”

Entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi”

Jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

"Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat." lanjutnya

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.

Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang.

Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing . Suami minta diambilkan air minum,

Tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang.

Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci.

Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.

Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya,

Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi.

Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

“kamu tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya.

Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan umi ridho”, begitu katanya.

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami.

Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini.

Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja .

Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang.

Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.

Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya.

Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya.

Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“Kamu tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu.

Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya.

Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia.

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari.

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya.

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan.

Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.

Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.

Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya.

Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu.

Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu.

Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu.

Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain.

Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkannku.

Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya.

Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..

Subhanallah..

Semoga pekerjaan, harta tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.

Teruslah berbagi, menginspirasi dan menebar manfaat artikel ini kepada saudara kita. Jangan lupa dishare :)

Kamukah Wanita Yang Di Rindukan Surga?

Kecantikan merupakan anugerah sekaligus amanah yang diperuntukkan kepada kaum hawa yang sudah seharusnya disyukuri.

Sehingga ia tidak termasuk orang-orang yang digolongkan oleh Allah bersama orang-orang yang kufur atas nikmat-nya. Habib Abdullah al Haddad berkata:

والكفران سبب لسلب النعم وتبدلها بالنقم

"Kufur atas nikmat Allah adalah penyebab tercabutnya nikmat dan digantikanya dengan cobaan atau ujian"

Selanjutnya, para wanita dianalogikan (seperti) tanah tempat kita akan bercocok tanam maka hendaknya kita memilah-milih ladang yang kita akan tanami.

Sebab apabila ladang itu bagus maka hasil panen dari tanaman kitapun akan menjadi bagus, namun apabila ladangnya itu jelek dan rusak maka hasil panen juga akan rusak.

Kecantikan sesorang wanita itu relatif, tergantung bagaimana seseorang memaknai kata cantik itu sendiri akan tetapi Hendaknya seorang laki-laki memilih perempuan yang bagus piawainya dan juga keshalihanya.

Rasulullah rpernah bertanya kepada putri tercintanya sayyidah Fatimah az Zahra’: ‘’sesuatu apakah yang paling baik bagi wanita?”maka sayyidah fatimah menjawab:

اْن لا ترى رجلا ولا يراها رجل

Artinya: perempuan yang tidak pernah melihat seorang laki-laki dan tidak pernah dilihat oleh seorang laki-laki.

Kemudian, sebagaimana seorang anak yang diridho’Allah karna ridho kedua orang tuanya, begitu juga dengan seorang wanita yang memiliki ikatan dengan seorang laki-laki maka Allah jadikan ridhonya kepada ridho suaminya. Pernah Salah seorang sahabiyah datang bertanya kepada rosulullahﷺ

أين أنا في الجنة؟

Dimanakah aku bisa menemukan syurga?Maka rosulullah yang mendengar pertanyaan itu seraya menjawab:

جنتك والنارك في يد زوجك

"Syurgamu dan nerakamu ada ditangan suamimu."

Dalam hadist lain nabi mengigatkan kaum hawa supaya menunaikan hak-hak suaminya

قال رسول الله : والذي نفسي بيده لاتؤدّي إمرأة حق ربها حتّى تؤدّي حق زوجها

" Demi zat yang jiwaku berada dalam genggamanya tidak akan bisa seorang perempuan melaksanakan hak-hak tuhanya kecuali dia telah melaksanakan hak suaminya."

Agama Islam telah menjelaskan kepada kita, khususnya kepada kaum hawa untuk menjadi seseorang mukmin dan mukminah yang bersifat iffah (menjaga diri) dengan mengenakan pakaian yang syar’i salah satunya dengan mengenakan hijab. Dengan begitu ia melindungi dirinya sendiri sekaligus mentaati perintah Allah swt.

Sunnah baginda nabi telah mengajak dan meyerukan kepada kita begitu pula kitab Allah telah menuntun kita agar selalu mentaati perintahnya dan menjauhi laranganya. Termasuk perintah-perintah Allah yang wajib ditaati adalah mentaati perintah suami. Allah I berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا)

“laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari alasan untuk menyusahkanya. Sungguh, Allah maha tinggi, maha besar.”

Telah jelaslah kiranya dari ayat tersebut, bahwa barometer keshalihan seorang perempuan bukanlah dari wajahnya akan tetapi dari keta’atanya kepada Allah I dan kepada suaminya dan lagi ia senantiasa memelihara diri. Sayyidina umar berkata:

النساء ثلاثة: هييّنة عقيقة مسلمة,تعين أهلهاعلى العيش ولا تعين العيش على أهلها. وأخرى وعاء للولد.وثالثا غلّ قمل يلقيه الله في عنق من يشاء من عباده.

Artinya: perempuan itu ada tiga macam: yang pertama perempuan yang lemah lembut, menjaga diri dan muslimah, yang membantu keluarganya atas kehidupan dan tidak membantu kehidupan atas keluarganya. Dan yang kedua: perempuan yang mengayomi anaknya. Yang ketiga: perempuan yang menjadi belenggu -yang Allah berikan kepada hamba-hambanya yang ia kehendak- bagi keluarganya.

Golongan pertama adalah perempuan yang memiliki sifat iffah didalam dirinya, sehingga ia mampu membantu keluarganya dan tidak menyusahkan mereka. sedangkan golongan kedua adalah golongan perempuan yang menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Yang ketiga: adalah segolongan perempuan yang hanya bisa menyusahkan suaminya dan keluarganya naudubillahi min dalik. Dan akhirnya dengan mengharap taufiq, ridho serta inayah-nya, semoga Allah swt memberikan kita istri yang sholehah, yang menjaga dirinya dari segala bentuk kemaksiatan.

Semoga bermanfaat! :)

Sumber : dalwadakwah.blogspot.com



Rumah Tangga Hancur Karena BB Dan FB



Muslimah Share - Namaku Lely. Berjilbab. Ibu rumah tangga dengan satu anak. Umur 26 thn tapi banyak yang bilang aku masih seperti gadis.

Di sela-sela kesibukanku bekerja di konveksi, aku coba buka BB baru pemberian suamiku. Tak lupa ku coba buka akun facebookku. Kangen rasanya seru-seruan dengan teman-teman SMA dulu.

Dari fb, ku mengenal laki-laki. Pemuda yang sukses dengan perdagangan dan pendidikannya.

Awalnya kami cuma saling like status lama kelamaan beralih saling berkirim pesan. Dalam pesan-pesan yang singkat kami pun saling rinci keadaan. Meski dia tahu aku istri dan ibu dari anak 4thn, dia tetap manis menanggapinya.

Dari situ, kami teruskan kirim pesan dengan saling berikan pin BB. Kirim foto dan berujung pada janjian adakan pertemuan.

Aku benar-benar khilaf dan terbuai suasana. Dia memang lebih ganteng dari suamiku dan tak segan-segan memberikan sepatu, seragam sekolah, seragam olah raga dan tas mahal untuk anakku. Bayangkan untuk membeli barang tsb dia rela merogoh ATM nya. Aku begitu terharu.

Itulah awal pertemuanku. Hari berikut koment-komentnya mulai sedikit genit dan nakal. Dan anehnya aku makin terhibur dengan inbok-inbok nakalnya. Mulailah setan merayapiku. Aku tak segan-segan memberi foto telanjang dada permintaannya.

Malam-malam yang ada penuh bunga-bunga bangkai bertebaran. Invite BB, FB dan mention twitter begitu berani, vulgar dan menantang birahi. Aku gak menyangka, meski sudah beranak satu tapi masih ada perjaka yang menyukai.

Belum lagi, di profilnya dia merupakan mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di jogjakarta.

Minggu itu, di pertemuan kedua, kami sudah langsung cek in hotel di kotaku jakarta. Sebulan dia di jakarta membuat kami sering adakan pertemuan hingga sampai pertemuan ke delapan.

3 bulan berlalu, aku mulai hamil. Aku merasa biasa saja. Tapi kedua orang tuaku bingung dan mempermasalahkan. Pasalnya, sudah setahun suamiku kerja di pengeboran lepas pantai luar jawa. Dan sudah barang tentu tak pernah setahun ini menyentuhku.

Aku tetap bilang pada mereka, bahwa ini adalah janin suamiku. Tapi kedua orang tuaku tetap menuduhku melakukan serong. Akhirnya, suamiku pun dituntut pulang.

Tanpa basa-basi, suamiku pun cek BB dan FB ku. Aku demikian bingung dan panik. Masih ada pesan-pesan nakal ku di situ. Aku menangis sejadi-jadinya. Menyembah-nyembah, bertekuk lutut di hadapan suami dan kedua orang tua kandungku.

“Menantuku, cepat ceraikan dia, biarlah aku kehilangan anak gadis dari pada kehilangan menantu dan cucu sebaik kamu.” kata ibuku

“Dan kamu..!” ibu menudingku dengan mata berair. “Pergilah kemana kau mau, sekarang juga. Dan jangan pernah kau tampakkan wajah menjijikkanmu di hadapanku dan keluargaku.”

Aku keluar rumah dengan tangisan anakku. Bahkan untuk memelukpun aku tak diizinkan. Ku coba minta pertanggung jawaban dari lelaki itu, namun BB FB nya sudah tak aktif lagi. Ku beranikan diri datang ke jogja kampus dimana dia kuliah. Di KABAG kemahasiswaan, ternyata tak menemukan nama yang ku maksud.

Aku tunjukkan foto wajahnya, dan ternyata tiada ditemui wajah yang seperti itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Kandunganku sudah hampir 6 bulan. Uang saku pun menipis. Tak tahu kemana arah diuntung. Tak tahu Kemana nasib akan menuntun.

BB dan FB benar-benar memporak porandakan rumah tanggaku.

Hukum Memakai Hijab Punuk Onta

Hukum Memakai Hijab Punuk Onta

Muslimah Share - ZAMAN sekarang ini, aneka jenis hijab telah merajalela. Hanya saja, kebanyakan dari gaya berhijab ini, bertentangan dengan apa yang ada dalam aturan Islam. Salah satunya ialah berjilboob dengan mengadakan punuk unta pada hijabnya.

Hijab punuk unta yaitu menggunakan hijab tetapi ada tonjolan dibelakangnya seperti punuk unta. Tonjolan itu dapat berupa rambut yang digelung maupun sesuatu sebagai pengganti rambut agar terdapat tonjolan itu. Misalnya saja berupa bantal kecil yang sengaja dimasukkan agar memperindah bentuk.

Melalui sabdanya, Rasulullah SAW telah memberitahukan kepada kita mengenai hal ini. Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

۞رواه أحمد ومسلم في الصحيح ۞

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).
Dalam hadits tersebut jelas bahwa wanita-wanita yang menggunakan punuk unta pada hijabnya termasuk golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak.

Mereka tidak akan mencium bau surga yang sebenarnya dalam jarak yang jauh sekali pun dapat tercium. Tapi, itu memang sudah ketetapan dari Allah SWT akibat kelakuan mereka sendiri.

Mereka bangga dengan apa yang mereka pertontonkan. Padahal, dari perbuatan yang seperti itulah mereka telah berbuat kesalahan yang berakibat fatal bagi dirinya.

Hal tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW jauh sebelum hal itu terjadi. Tapi, Rasulullah memberitahukan kepada kita, bahwa salah satu tanda akhir zaman itu ialah adanya hijab punuk unta tersebut. Subhanallah, itulah kelebihan yang dimiliki oleh Nabi kita.

Allah SWT telah memberi kabar akan adanya tanda akhir zaman itu melalui Nabi kita. Dan kini, apa yang disampaikan Nabi SAW itu benar adanya. Apakah mungkin akhir zaman itu telah mulai dekat? Wallahu ‘alam.

Untuk itu, kewajiban kita kepada sesama muslim ialah saling mengingatkan. Jadi, apabila kita melihat seseorang yang berhijab seperti itu, tidak ada salahnya apabila kita menegurnya.

Karena, boleh jadi mereka tidak mengetahui ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya yang sebenarnya. Bila seseorang yang ditegur itu tidak mau mendengarkan nasihat kita, maka tidak menjadikan dosa kepada kita.

Pada hakikatnya, kewajiban kita hanya mengingatkan saja, dan apabila hal itu telah dilakukan maka gugurlah kewajiban kita itu. Yang salah adalah apabila kita mendiamkan mereka tetap berada dalam kesalahannya.

Sumber : dalwadakwah.blogspot.com